Tauhid

Ushuluddin ke-1 adalah Tauhid / Monoteisme (توحيد) merupakan pokok keyakinan yang paling mendasar dan terpenting Islam, keyakinan tentang keesaan Allah, yang dituangkan dengan kalimat La Ilaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Semua ajaran-ajaran keyakinan, akhlak dan fikih Islam bermuara kepada Tauhid.

Syi'ah meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi: ilmu, kekuasaan, keabadian, dan sebagainya. Oleh karena itu, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena keduanya (ruang & waktu) adalah terbatas. Tetapi pada waktu yang sama, hadir di setiap ruang dan waktu karena Dia berada di atas keduanya.

Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, dan semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Makhluk tidak dapat menjangkau-Nya, tapi Dia menjangkau segala sesuatu.

Tauhid Dzati
Tauhid Dzati yaitu bahwa Dzat Allah itu Esa. Tidak ada serupa dengan-Nya. Tidak ada tandingan dan tidak ada yang menyamai-Nya. Dzat Allah sebagai Pencipta (Khaliq) dan selainnya sebagai ciptaan-Nya (Makhluk). Dzat Allah tidak berbilang dan tidak menerima dualisme, yang tidak memiliki sepadan dan serupa. Sedangkan yang dicipta berbilang, dan memiliki keserupaan dengan ciptaan lainnya.

Allah SWT adalah pencipta alam semesta. Keagungan ilmu dan kekuasaan-Nya tampak dengan jelas pada seluruh jagad raya, dalam diri manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, bintang-bintang di langit, alam metafisik, dan di mana saja.

Tauhid Sifat
Tauhid Sifat artinya obyektivitas dzat Ilahi dengan sifat-Nya. Menurut mazhab Syiah, sifat Allah bukanlah hakikat yang berbeda dari dzat-Nya sehingga dzat tersebut disifati dengannya, namun semua sifat-sifat adalah entitas satu sama lain dan juga entitas dzat.

Mazhab Syi'ah meyakini bahwa Allah SWT bersih dari segala cela dan kekurangan. Ia bersifat dengan segala sifat kesempurnaan. Bahkan Ia adalah kesempurnaan itu sendiri dan mutlak sempurna. Seluruh kesempurnaan dan keindahan yang ada di alam semesta ini berasal dari diri-Nya Yang Mahasuci.

Tauhid Af’al (Perbuatan)
Tauhid Af’al (Perbuatan) yaitu bahwa segala perbuatan, gerak, dan wujud apapun pada alam semesta ini bersumber dari keinginan dan kehendak-Nya. Allah dalam melakukan perbuatan-Nya tidak membutuhkan bantuan, penolong maupun sekutu di luar dari dzat-Nya, Dia independen dan Esa dalam melakukan setiap perbuatan.

Meski tidak ada yang menentukan dalam alam semesta ini, kecuali Allah. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita. Kita justru bebas memilih dan mengambil keputusan, manusia bebas dalam kehendaknya (free will).

Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita disandarkan kepada Allah, namun tanpa sedikitpun mengurangi tanggungjawab kita terhadapnya.

Tuhan memang yang telah menghendaki kita bebas dalam perbuatan-perbuatan kita, karena Dia ingin menguji dan membawa kita ke jalan kesempurnaan. Sebab manusia tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dengan kebebasan berkehendak (free will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri; itu karena perbuatan yang dipaksakan dan di luar kemauan seseorang tidak menggambarkan apakah ia baik atau buruk.

Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlak terpaksa) dan tidak pula tafwidh (bebas mutlak).

Tauhid Ibadah

Tauhid Ibadah yaitu tidak ada sesuatu yang layak disembah selain Allah Swt dan tidak ada Tuhan dan sesembahan selain-Nya. Maka, seluruh hamba harus melaksanakan ibadahnya hanya semata-mata untuk Allah dan dengan perintah-Nya. Ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT semata dan tidak ada yang patut disembah kecuali Allah SWT.