Ushuluddin ke-1 adalah Nubuwah - Kenabian (نبوة). Mazhab Syi’ah meyakini bahwa Allah swt Yang Maha Sempurna menciptakan manusia (makhluknya) beserta petunjuk yang akan membimbing ciptaannya mencapai kesempurnaan tujuan penciptaannya.
Agar Bimbingan Ilahi tersebut sampai kepada manusia, maka Dia mengangkat Nabi dan Rasul untuk menyampaikannya, sekaligus menjadi teladan, pembimbing juga pemimpin umat yang sempurna. Dengan demikian, para Nabi dan Rasul tersebut haruslah manusia sempurna, terjaga dari segala kesalahan, dosa, lupa dan sifat-sifat kekurangan lainnya (Maksum). Adalah mustahil bila risalah ilahi ini dibawa oleh orang-orang yang tidak memiliki kesempurnaan.
Mazhab Syi’ah meyakini bahwa penutup semua Nabi dan Rasul adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Seseorang yang maksum, terjaga dari segala bentuk kesalahan dan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Rasulullah saw bertugas sebagai pemimpin, pembimbing, pemberi petunjuk, pendidik, pengajar, penjelas hukum, penuntas segala kendala kesalahan berpikir dan penyelesai perkara perkara.
Mazhab Syi’ah percaya bahwa setelah berakhirnya kenabian Nabi & Rasul Muhammad saw tidak serta merta berakhirnya bimbingan ilahi untuk manusia, dan manusia dibiarkan hidup tanpa seorang pembimbing ilahiah. Bimbingan ilahi akan terus bergulir hingga berakhirnya zaman.
Seperti halnya terlihat dalam sejarah para Nabi & Rasul, setiap kali berakhirnya seorang Nabi maka digantikan oleh Nabi atau Rasul lainnya. Sedangkan setelah berakhirnya kenabian Muhammad saw, bimbingan ilahi ini dilanjutkan oleh para Imam, yang juga pilihan Allah swt, memiliki sifat Maksum dan lainnya, hanya saja mereka bukan Nabi ataupun Rasul. Hal ini akan dibahas pada bab Imamah.
