Ma’ad

Ushuluddin ke-3 adalah Ma'ad- Hari Kebangkitan (المعاد). Mazhab Syi’ah percaya akan adanya Hari Kebangkitan (Ma’ad), mengimaninya memberi peran penting dalam kehidupan dunia dan tentu saja di alam akhirat. Dalam kehidupan di dunia keimanan keberadaan Hari Kebangkitan akan menumbuhkan dan meneguhkan etika dalam jiwa manusia dan mencegahnya terperosok dalam dosa dan kerusakan masyarakat.

Tanpa adanya Hari Kebangkitan / akhirat, maka kehidupan yang dijalani akan menjadi sia-sia, segala penderitaan, harapan, amal ibadah akan hilang begitu saja. Dalam masyarakat yang tidak mengimani adanya Hari Kebangkitan dapat disaksikan terjadinya kerusakan mental dan sosial.

Keyakinan akan adanya kehidupan yang abadi dan kekal setelah kehidupan dunia ini, menumbuhkan keyakinan yang kuat bagi individu mengikuti Risalah Ilahi, para Nabi & Rasul, dan para Imam sepanjang hidupnya meski menghadai segala bentuk kesulitannya. Dan semua kesulitan yang dilihatnya akan nampak tidak berarti sama sekali.

Dampak positif keimanan pada Hari Kebangkitan bagi individu diantaranya mengikis keputus-asaan, kesia-siaan dan sekaligus mencegahnya dari kesombongan, egoisme, kecintaan pada diri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain.

Mazhab Syi’ah meyakini bahwa manusia bergerak untuk mencapai tujuan kesempurnaan hidupnya, dan harus melewati kematian, seperti sebuah pintu yang harus kita lewati dari kehidupan dunia ke kehidupan selanjutnya (barzakh). Sebuah kehidupan di alam baru yang berbeda dari alam kehidupan dunia sebelumnya, sebuah pintu kebebasan manusia untuk sampai kepada Tuhan yang diibadahinya.

Dengan demikian kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, bahkan merupakan tercapainya harapan manusia untuk hidup kekal. Rasa takut akan kematian tentu saja timbul dari ketidaktahuan akan hakikat kematian, dan kekekalan kehidupan.

Berikut gambaran tentang kematian dari Imam ‘Ali Al-Hadi as:
“Kematian (yang engkau takutkan) itu adalah permandian yang membersihkan kotoranmu, dan ia adalah akhir yang tersisa darimu untuk menghapus dosa-dosamu dan membersihkan kesalahan-kesalahanmu. Maka, jika engkau telah melewatinya, sesungguhnya engkau telah selamat dari setiap kesusahan, penderitaan, dan kesakitan yang engkau alami dan engkau telah sampai pada kebahagiaan dan kesenangan.” Ma’anil Akhbar, hal. 290.